Sempat Hampir Berputus Asa
Di usia remaja dengan emosi yang masih labil ditambah tekanan bertubi-tubi, Sudiatma mengakui sempat ingin mengakhiri hidup. Ia sudah berdiri di atas batu karang dengan deburan ombak yang tinggi, namun berhasil dicegah oleh seorang pria paruh baya. Untuk kedua kalinya percobaan bunuh diri ia lakukan, ia terjun ke sumur dan lagi-lagi ia berhasil ditemukan, sebelum berujung fatal.

Seiring bertambahnya usia, kesadaran spiritual Sudiatma terbangun dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui pengucapan Gayatri Mantram dan membaca buku-buku agama. Mulailah ia menemukan ketenangan dan kedamaian hati setelah mengikhlaskan segala yang telah terjadi dan ‘lahir kembali’ menjadi pribadi yang lebih bijak menyikapi pasang surut kehidupan.
Baca Juga : Pemuda Berdikari Sukses Membangun Klinik Fisioterapi Dengan Niat Membantu Masyarakat Hidup Sehat
Sampai pada akhirnya di babak perkuliahan setelah impiannya pupus pada Fakultas Kedokteran, ia melanjutkan di IKIP Maha Saraswati – Pendidikan Biologi. Baru duduk di semester pertama, ia memberanikan diri untuk mengajar demi membiayai kuliahnya. Dengan sarana prasarana yang terbatas, untuk foto copy materi saja tidak mampu, sekuat hatinya ia membaca catatan milik temannya. Syukurnya ia berhasil mendapat nilai B, pencapaian tersebut juga berkat lingkungan kampus yang positif, tak memarjinalkannya hanya karena ia memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Kepercayaan diri Sudiatma untuk berkarir sebagai akademisi semakin mendarah daging. Setelah ia lulus, ia mengajar sejak tahun 1982 di beberapa instansi pendidikan Kabupaten Badung yang saat itu belum diresmikan Pemerintahan Kota Denpasar. Diantaranya, SMAN 3, SLUA Saraswati, Dharma Wiweka Pedungan, Dwijendra dan Taman Sastra Jimbaran. Total jam terbangnya dalam mengajar bisa mencapai 80 jam/minggu, namun ia sangat menikmati rutinitasnya tersebut dengan pakaian dan celana cutbray yang dikenakan begitu sederhana.
