Made Kiston bersama rekannya kemudian mulai merekrut I Putu Sukarjana yang kini selaku Bendahara untuk mencari anggota, hingga terhimpun 17 orang anggota. Sembari mencetuskan nama “Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Lembing Sejahtera Mandiri”, penambahan anggota, harus kembali diupayakan yang diturunkan kepada I Nyoman Muska selaku Manajer saat ini, untuk turun ke lapangan melakukan pendekatan sosial. Sehingga bertambah lagi, menjadi 66 orang dan berlanjut ke pengurusan. Setelah terkumpulnya 66 anggota, kemudian mengajukan badan hukum hingga resmi berbadan hukum pada tanggal 4 agustus 2011, tentu ini menjadi pondasi yang krusial untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi dan pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai peringatan hari jadi KSP Lembing Sejahtera Mandiri.
Baca Juga : “Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia” Belajar Dari Sebuah Seni Untuk Menjalani Hidup Multidisiplin

Untuk menggantikan ketua sebelumnya yakni Made Budiarta yang tengah sakit, Made Kiston pun terpilih menjadi ketua koperasi yang beralamat di Jalan Raya Denpasar – Singaraja, Sembung, Kec. Mengwi, Kabupaten Badung ini. Berbekal pengalamannya yang juga sempat bekerja sebagai pengurus di dua koperasi yang berbeda, ia menyimpulkan kejujuran dan kepercayaan menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari lembaga keuangan, termasuk dalam hal ini di koperasi. Merefleksikan dari salah satu koperasi tempatnya bekerja yang sudah tidak beroperasi, tentunya ia berharap tidak terjadi pada KSP Lembing Sejahtera Mandiri dan mampu bertransisi menjadi “Soko Guru Ekonomi” seluruh anggota.
Ditambahkan oleh I Putu Sukarjana, vitalnya satu visi satu tujuan dalam tim koperasi adalah faktor internal yang harus terus dipelihara demi memitigasi koperasi yang kini beranggotakan 600 orang, dengan aset Rp. 12 miliar terus bergerak kedepan hadapi tantangan yang memang kompleks. Seperti tuntutan NPL (Non Performing Loan) atau angka kredit bermasalah akibat pandemi, membuat koperasi tak bisa berbuat banyak. Tak cukup sampai di sana, mantan karyawan Accounting dari Bank Aken ini, menyuarakan bahwa program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari pemerintah menjadi menitikberatkan lembaga – embaga yang sejatinya bersentuhan langsung dengan ekonomi masyarakat menengah ke bawah, beralih ke program tersebut. Sehingga mulai terkikis masyarakat yang menggunakan koperasi untuk melakukan kredit. Harapannya pemerintah bisa membenahi lagi program tersebut, agar koperasi juga bisa terus eksis tanpa tersandung program KUR dan bisa berjalan berdampingan.
