KSU Sari Artha Buana Sebagai Lembaga yang Dekat Dengan Masyarakat, Kearifan Lokal Harus Dipelihara Hingga Generasi Selanjutnya

Beralih ke kisah masa kecil Wedana, tak kalah menjadi ‘garis besar’ dalam tuntunan dan pencapaiannya saat ini. Ia dilahirkan dari ayah sebagai tokoh Kelihan Desa dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Keduanya sekaligus sebagai petani yang menggarap lahan seluas 70 are. Meski dengan perhitungan pemasukan ekonomi yang sederhana, orangtua mewanti-wanti agar ia tetap bersemangat melanjutkan sekolahnya. Dari kelas I-III ia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), kemudian melanjutkan ke Payangan, saat kelas IV-VI.

Baca Juga : Afirmasi Hipnoterapis Mewujudkan Cita-Citanya Demi Mendomestikasi Penyembuhan Gangguan Pasca Trauma di Tengah Masyarakat Awam

Kondisi fisik jalan yang jauh dari kata mulus dan menanjak, tak menjadi penghalang Wedana hingga berhasil meluluskan sekolah tahun 1953. Ia pun tergolong anak yang pintar dan bercita – cita melanjutkan ke SMP milik kedinasan, agar sekaligus meringankan beban orangtua. Namun sayang ia tak lolos, ia akhirnya kembali ke rumah dan sempat membuat ayahnya kesal karena belum jelas kemana akan melanjutkan sekolah. Wedana akhirnya dinasehati oleh orangtuanya, bahwa ia harus tetap bersemangat meski rencananya tak selalu berjalan sempurna. Mendaftarlah ia ke sekolah swasta tahun 1957, setelah tamat kemudian melanjutkan di PGA Saraswati (sekarang Yayasan Pendidikan Rakyat Saraswati Denpasar). Hingga ia menjadi Guru BK (Bimbingan Konseling) sejak tahun 1962-1965 di salah satu sekolah di kota Negara. Desember 2006, Wedana diangkat sebagai guru di SMP Negeri 1 Payangan. Kemudian statusnya meningkat sebagai Kepala Sekolah hingga pensiun dari praktisi akademisi dengan terjun ke lembaga koperasi.

Di usia yang sudah tak muda lagi, Wedana wajib didampingi tim yang lebih enerjik dan muda, salah satunya Sekretaris KSU Sari Artha Buana, Ni Wayan Sukarsih. Sukarsih yang sudah mengenal karakter sang ketua, tak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi, hanya saja untuk urusan KSU Sari Artha Buana, ia kerap berkoordinasi, begitu pula dengan tim yang lain. Tanpa adanya komunikasi yang jelas dan berkualitas, mekanisme koperasi akan terganggu dan bisa berimbas kesimpangsiuran sampai di pelayanan. Hal ini harus dihindari, demi menjaga keharmonisan dan keberlanjutan kearifan lokal ke generasi selanjutnya yang akan meneruskan koperasi ini nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *