Membentengi Pertahanan Usaha dari Tantangan Zaman dengan Komitmen Menampilkan Kualitas Produk Terbaik

Membentengi Pertahanan Usaha dari Tantangan Zaman dengan Komitmen Menampilkan Kualitas Produk Terbaik

Mengawali langkahnya tahun 1996, Yuni Arman memilih untuk merantau ke kota Bandung. Setelah krisis moneter, tahun 1999 ia kemudian ke Bali, di mana saat itu sebuah perusahaan di Bali membutuhkan tenaga ahli. Beberapa kali pindah pimpinan, hingga akhirnya ia mencoba mendirikan sebuah garment dengan modal kecil – kecilan pada tahun 2004.

Dari motivasi diri sendiri, Yuni Arman memilih mematangkan karirnya dengan membangun bisnisnya sendiri. Selain basic orangtua yang merupakan pedagang beras, tanpa disadari ia pun memiliki sifat turunan yang sama untuk berkecimpung dalam dunia jual beli. Bermodalkan satu mesin obras, ia pun resmi mendirikan CV. AFC (Aulia Fajar Collection).

Masih dengan modal pas – pasan, pria kelahiran Purworejo, 29 Juni 1980 berusaha menambah daya usahanya seperti beberapa mesin, agar lebih produktif. Di tahun 2006 ia kemudian mengontrak sebuah rumah di Jalan Gunung Salak sebagai rumah produksi dan mulai melakukan penambahan karyawan, yang awalnya dua hingga tiga orang saja, kemudian menjadi 15 orang.

Semakin berjalan dan berkembang, orderannya yang terus bertambah dari pengenalan beberapa relasi, CV. AFC memberanikan pindah ke lokasi yang lebih luas, karena harus menambah lagi karyawan menjadi 20 orang. Jadilah ia pindah ke lokasi Jl. Tangkuban Perahu No.100 Padang Sambian sebagai alamat resmi sampai saat ini.

Baca Juga : Kalau Mau Hasil Optimal Jangan Setengah – Setengah Dalam Berbisnis

Setelah tiga tahunan, pada tahun 2009, CV. AFC memiliki pondasi yang kuat dan stabil, terutama dalam hal sumber daya. Perjuangan yang tak main – main harus ditempuh oleh Yuni Arman merintis segalanya dari nol, dari bekerja di pagi hari, kemudian bertemu pagi lagi. Itu ia lakukan, harus tanpa mengenal putus asa dan menjaga semangat dari dalam diri. Namun tidak sedikit yang menyangkanya memperoleh kesuksesan secara instan, padahal siapapun pasti butuh proses jatuh bangun untuk menggapai goal dari bisnis di bidang apapun.

CV. AFC memproduksi berbagai produk pakaian, diantaranya produk rajut, seperti tas, dompet, kardigan, tak jarang, Yuni Arman mengadakan promo diskon untuk menarik para pembeli. Tak hanya disibukkan dengan rutinitas bekerja, demi menjaga keakraban dan mengapresiasi loyalitas para karyawan, ia sebagai pimpinan juga mengatur jadwal khusus untuk kegiatan outbond, rehat sejenak untuk me-refresh diri. Dan saat bertepatan dengan hari raya muslim, diadakan acara syukuran pada bulan Ramadhan, sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran dan keberkahan usaha.

Untuk terus dapat menjaga kebugaran terutama di tengah kondisi pandemi ini, yang menyebabkan krisis sebagai pebisnis. Yuni Arman melakukan upaya – upaya untuk membentengi diri yakni dengan berolahraga, makan makanan sehat dan mengelola pikiran, agar terhindar dari stres. Tak hanya itu, dengan bekerja sesuai dengan passion kita, baginya juga mampu mengalihkan pikiran kita dari berita – berita negatif yang juga dapat memicu stres, kemudian yang berakibat menurunkan sistem imun. Selama itu kegiatan positif dan tidak berlebihan, bisa dimanfaatkan sebagai langkah pencegahan tertular virus Covid-19.

Harus Bangkit Lagi, Setelah Bom Bali
Lahir sebagai ayah anak tukang kayu dan ibu sebagai pedagang beras, masa kecil cukup sederhana. Di usia 10 tahun, ia pun sudah memiliki kesadaran harus membantu orangtua mengantar beras, dari pagi hingga subuh. Pada pk. 06.30 barulah ia bersiap – siap untuk ke sekolah.

Sepulang sekolah, anak kelima dari enam bersaudara ini, tak lantas beristirahat begitu saja. Ia harus pergi ke kandang kambing dan memberi makan hewan peliharaan tesebut, berharap akan menambah pemasukan untuk keluarga. Namun ternyata kondisi tersebut, tak mampu membawanya melanjutkan sekolah menengah atas. Ia pun terpaksa putus sekolah hanya sampai SMP.

Langkah yang diambil Yuni Arman selanjutnya, ia ikut kakaknya berangkat ke Bandung pada tahun 1996. Sesuai dengan nasehat ibunya, ia diminta agar tak patah semangat untuk mengejar kesuksesannya, meski dalam keterbatasan ekonomi. Di mana ada jalan terbuka, manfaatkan itu sepositif mungkin, jangan sesekali merugikan orang lain. Seraya mengingat kata – kata tersebut, ia akhirnya mencoba kesempatan untuk menapaki kakinya di kota Kembang, bekerja di sebuah perusahaan.

Baca Juga : Bangkit dan Berdamai Dengan Masa Lalu

Dari Lamongan, kemudian ke Bandung dan sukses membangun bisnis di Bali, bukan berarti kesulitan Yuni Arman telah selesai. Kehidupan barunya telah dimulai, dengan tantangan yang semakin menguji nyalinya sebagai pebisnis. Misalnya di tahun 2002, saat adanya peristiwa Bom Bali, sempat meremuk redamkan usahanya. Mereka yang berasal dari luar Bali, banyak yang menutup usaha dan memilih balik ke kampung masing-masing. Ia pun melakukan hal yang sama, tinggal bersama mertua di kampung selama enam bulan.

Selama enam bulan numpang di rumah mertua, Yuni Arman tidak memegang pekerjaan sama sekali. Ada rasa malu dan membebani orangtua, menggerogoti pikirannya saat itu, sebisanya ia ikut membantu mertua yang memiliki usaha produksi tempe. Sekaligus demi mengalihkan pikirannya tentang nasib usahanya kelak. Tentunya ia berharap mampu bangkit lagi, namun semuanya ia serahkan kembali sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Belum ada pikiran apa yang segera bisa dilakukan Yuni Arman untuk memperbaiki finansialnya. Setelah jeda dengan peristiwa tersebut, ia mengikuti kata hatinya untuk kembali ke Bali dan mencoba peruntungannya dengan modal lima juta, yang bisa dikatakan mencukupi pada masa itu.

Ekspetasi Yuni Arman ternyata tidak sesuai, sebelum mencapai goal-nya, uangnya sudah habis dengan pekerjaan yang morat – marit. Belum lagi kebutuhan yang semakin mengejar ia sebagai kepala keluarga, sempat membuat ia dan istri terlibat keributan. Meski demikian, dukungan dari istri agar ia segera keluar dari kondisi keterpurukan tersebut terus ia dapatkan dan mencoba berusaha keras bekerja sejak pagi, untuk kebutuhan sehari – hari dan malam harinya untuk biaya lainnya.

Dari pekerjaan tersebut, relasi Yuni Arman semakin lama bertambah, ia kemudian memiliki ide menjual sweater dengan cara berkeliling seorang diri mengunjungi beberapa art shop di Sanur, Nusa Dua hingga Ubud. Akhirnya panggilan kerjasama dari contoh produk yang ia tawarkan membuahkan hasil. Tak hanya impor, penjualan ekspor pun ia layani seperti Spanyol, Amerika, Inggris dan Australia dengan kapasitas 40.000 pieces/bulannya.

Yuni Arman tak bisa mengabaikan rasa syukurnya, karena ia mampu membangkitkan CV. AFC kembali. Di masa pandemi ini, meski diungkapkan sempat mengalami penurunan hanya pengiriman 8000 pieces/bulan, sekali lagi ia begitu bersyukur, berkat Tuhan ia mampu melewati tantangan ini dan kondisi usaha sudah dirasakan mulai membaik. Ia semakin bersemangat menampilkan kualitas terbaik dari CV. AFC sebagai pelayanan nomor satu dan terpercaya.

3 thoughts on “Membentengi Pertahanan Usaha dari Tantangan Zaman dengan Komitmen Menampilkan Kualitas Produk Terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published.