Mengenal Jati Diri Sebenarnya untuk Seimbangkan Hidup Secara Sekala Maupun Niskala

Mengenal Jati Diri Sebenarnya untuk Seimbangkan Hidup Secara Sekala Maupun Niskala

Ida Bhawati I Made Wega – UD. Wega

Ida Bhawati I Made Wega lahir dari orangtua petani yang sederhana, di Denpasar 11 Maret 1952. Ia pun hanya bisa sekolah sampai setingkat SMP dan tamat dari SMP Dwijendra tahun 1968. Selain bekerja, orangtua juga memiliki ilmu tentang kepemahaman spiritual yang bangkit dari kematangan jiwa itu sendiri, hal ini pun menurun kepada Ida Bhawati yang mempertegas dirinya, tak mau hanya menghabiskan waktunya dengan bekerja. Tapi harus menyeimbangkan diri dengan menjaga keproduktifan diri antara bekerja dan berdoa.

Tanggung jawab Ida Bhawati I Made Wega sebagai kakak kepada adik tiga perempuan dan satu laki-laki, semakin ia rasakan setelah sepeninggal kakak perempuan. Ia berupaya bekerja memenuhi kebutuhan keluarga sebaik mungkin, membantu mengurangi beban orangtuanya yang hanya bisa mengambil pekerjaan bertani saja di masa itu.

Ida Bhawati selain bertani di atas lahan kepemilikan sendiri, juga bekerja sebagai tukang bangunan. Ia harus memanajemen waktunya sebijak mungkin, di mana sejak jam 4 pagi ia pergi ke sawah dan jam 7 pagi bekerja di proyek hingga jam 4 sore, kemudian malamnya jam 7, ia kembali ke sawah. Rutinitas itu dilakukan selama sekian tahun, dengan penuh kesabaran dan ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Baca Juga : Menjejal Kehidupan yang ‘Keras’ Hingga Sukses Berkat Kerja Keras

Setelah berumah tangga pada tahun 1973, Ida Bhawati mulai dipercaya menjadi bagian dari kegiatan sosial, ia dipilih sebagai kelian adat yang menjabat selama 5 tahun. Namun sebelumnya, ia sudah aktif sebagai ketua sekaligus pendiri dari sekaa muda mudi pada tahun 1966. Sehingga beberapa posisi yang berfungsi mengatur keteraturan di lingkungan bermasyarakat, pun dipegangnya dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Tahun 1982 Ida Bhawati bekerja di kelurahan sekaligus berstatus sebagai PNS. Tahun 1971 ia mulai merambah ke dunia politik bersama seniornya, Kolonel Merta Suteja dan Bapak Dana (Bupati Badung). Meski setelah SK PNS keluar pada tahun 1981, ia masih mengerjakan proyek SD Inpres sampai pada tahun 1983, pekerjaannya sebagai petani pun masih ia garap.

Tahun 1986, di usia yang terus bertambah, Ida Bhawati mulai memikirkan untuk membuka usaha. Didukung dengan adanya kenalan pemilik toko, saat ia bekerja sebagai tukang bangunan, ia pun merintis toko bangunan “UD. Wega” yang berlokasi di Jalan Tukad Yeh Aya No 36, Renon, Denpasar Selatan. Bersyukur dalam perintisan usahanya, Ida Bhawati mendapat kepercayaan dari pihak bank, untuk memperoleh pinjaman dan dapat terus mengembangkan usaha.

Baca Juga : Tulus Melayani Kebutuhan Dasar Masyarakat Akan Kesehatan

Kesuksesannya tersebut pun membawa anak – anaknya untuk sukses mengenyam pendidikan sebagai dokter hewan dan anak kedua tengah berkuliah di Jurusan Ekonomi Manajemen di UNDIKNAS. Tak sampai disana, ia juga turut membantu kerabat lainnya, ada yang sukses melanjutkan di kepolisian dan sebagai notaris.

Dalam perjalanan hidup Ida Bhawati, meski disibukkan dengan bekerja dari bidang satu merambah ke bidang lainnya, ia berupaya tetap menjaga keseimbangan hidupnya secara sekala maupun niskala. Hingga mendapat tuntunan jiwa untuk menjadi sulinggih bagi masyarakat di sekitar, terutama menjaga keharmonisan dengan leluhur dalam keluarga. Tentunya dalam upaya tersebut, tak diperoleh Ida Bhawati secara instan, ia harus lebih banyak berkonsentrasi pada diri sendiri, dengan banyak berkomunikasi apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan diri, hingga menemukan jati diri yang sebenarnya dalam memilih jalan kehidupan.

One thought on “Mengenal Jati Diri Sebenarnya untuk Seimbangkan Hidup Secara Sekala Maupun Niskala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *