Menjadi Bahagia dengan Pengabdian yang Berlandaskan Kemanusiaan

Menjadi Bahagia dengan Pengabdian yang Berlandaskan Kemanusiaan

Dalam proses menggapai impian pastinya akan ada banyak hal yang menghambat atau yang menjadi batu sandungan. Permasalahan itu bisa datang dari mana saja dan berupa apa saja sehingga cara seorang insan dalam menghadapinya akan menjadi pelajaran yang menentukan kesuksesan.

Bergelut di bidang pelayanan masyarakat utamanya kesehatan memang merupakan pekerjaan yang mulia, bahkan pada masa pandemi saat ini kesehatan tentu menjadi faktor utama untuk selalu di jaga. Sama halnya seperti yang dilakukan oleh sosok dr. I Wayan Suwidja Haryasa yang merupakan seorang dokter dan juga pemilik klinik kesehatan di Tabanan bernama ‘Klinik Wijaya Kusuma’ yang hingga saat ini lewat tangan dinginnya ‘Klinik Wijaya Kusuma’ dapat menjadi layanan kesehatan masyarakat yang terus bergerak dinamis memfasilitasi dan melengkapi kebutuhan layanan kesehatan bagi masyarakat, serta secara terpadu memfokuskan diri pada ilmu kedokteran spesialis anak.

Baca Juga : Pelayanan Internasional Dengan Improve Skill Para Generasi di Ranah Kesehatan

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran umum pada Universitas Udayana, dr. Wayan Suwidja langsung terjun ke lapangan, dengan sempat menjadi dokter yang bertugas ke plosok – plosok desa di Kendari, Sulawesi tenggara. Selama di sana ia bertugas untuk melayani masyarakat yang pada waktu itu banyak menderita penyakit infeksi saluran penafasan seperti TBC dan pnemonia, penyakit diare dan banyak pula ynag menderita gizi buruk. Dari perjananan inilah ilmu dan pengalaman sosok dr. Wayan Suwijda di tempa dengan mengambil peran sebagai pendorong perubahan bagi masyarakat.

Kesenjangan pelayanan kesehatan di Indonesia adalah sebuah realita yang hingga sekarang masih dirasakan. Maka bagi dr. Wayan Suwidja secara konstitusional peran menyehatkan masyarakat ini memanglah tanggung jawab negara, tetapi secara moral hal ini merupakan tanggung jawab profesinya juga di bidang ilmu kesehatan anak.

Lebih dari tiga tahun mengabdi di Kendari untuk melayani masalah kesehatan pada masyarakat. Pengalaman itu pun membuahkan tekad baginya untuk kemudian kembali melanjutkan pendidikan di bidang ilmu kesehatan anak di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makasar.

Setelah menyelasaikan studi spesialisnya, dr. Wayan Suwidja pun memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halamannya di Tabanan. Semangat pengabdian dan kecintaannya pada kemanusiaan lah yang kemudian mendorongnya untuk membuka sebuah klinik di kampung halaman, yang berfokus untuk memberikan layanan terpadu pada kesehatan anak.

Dokter berasal dari bahasa latin docere yang berarti mendidik. Maka itu berarti tugas seorang dokter bukan hanya mengobati, tapi juga mendidik pasien, keluarga dan masyarakat akan kesehatan. Hal itu juga yang menjadi visi dr. Wayan Suwidja dalam menjalankan profesinya. Baginya ilmu yang dimilikinya adalah suatu darma untuk menjawab panggilan hati, agar dapat menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Dengan pelayanan dan kredibilitasnya sebagai seorang dokter lapangan, Maka tak ayal praktik ilmu kedokteran yang ia jalankan sekarang menjadi pilihan sentral bagi masyarakat Tabanan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang diinginkan. Semua hal tersebut merupakan bukti dari perjuangan dan ketabahan hati dalam menggeluti profesi yang ia jalanani, maka bentuk rasa syukur itu berbuah menjadi nikmat dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

Baca Juga : Tangguh dan Inovasi Pejuang UMKM Agar Terus Bertahan di Maraknya Toko Modern

Sebagai pelayan masyarakat, dr. Wayan Suwidja berupaya untuk selalu menciptakan suasana yang ramah dan hangat kepada para pasien, agar mereka menemukan rasa nyaman saat berada di kliniknya. Hal itu dilakukan supaya para pasien tidak canggung dalam berinteraktif seputar keluhan yang tengah mereka alami. Karena dalam proses konsultasi, sudah semestinya para pasien terbuka kepada dokter yang menanganinya. Dokter pun harus memiliki kesabaran yang tinggi dalam menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan pasien dengan baik dan jelas.

dr. Wayan Suwidja merupakan putra asli tanah Penebel, Tabanan, kedua orang tuanya adalah seorang petani tulen. Maka kehidupan masa kecilnya pun diiringi dengan keriaan aktivitas sawah dengan turut membantu kedua orang tuanya bertani. Kehidupan sederhana, serba pas – pasan tak mengurungkan tekadnya untuk memiliki impian dan cita – cita yang tinggi. Bentuk suri tauladan sosok kedua orang tua yang mengajarkannya untuk selalu tekun dan pantang menyerah merupakan energi pendorong yang membentuk pribadi dr.Wayan Suwidja tetap gigih mewujudkan apa yang telah diimpikan dan dicita – citakannya.

Dapat menolong dan menyelamatkan jiwa orang lain adalah hal yang paling ingin dilakukan semua orang, tentunya pemikiran itu juga yang dimiliki dr. Wayan Suwidja sehingga sedari kecil ia pun bercita – cita untuk menjadi seorang dokter.

Sekarang ia pun dapat membuktikan bahwa memiliki impian dan cita – cita yang tinggi merupakan awal dari bergeraknya roda nasib seorang insan. Dari perjalanan dr. Wayan Suwidja dalam menggapai apa yang telah diimpikannya, sebagai generasi penerus bangsa kita belajar bahwa semua orang memunyai kesempatan yang sama untuk meraih impian setinggi – tingginya, maka sikap untuk selalu gigih dan optimis pun dibutuhkan dalam melewati pahit getirnya perjalananan menuju impian yang diinginkan.

One thought on “Menjadi Bahagia dengan Pengabdian yang Berlandaskan Kemanusiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *