I Wayan Sapta Edi merupakan putra daerah yang terlahir di tengah keluarga sederhana dan jauh dari kata mewah. Orang tua tercinta berprofesi sebagai pengerajin seni, sehingga ia pun tumbuh dengan nilai-nilai seni dalam menjalankan sendi-sendi kehidupannya bermasyarakat.
Lingkungan sosialnya yang kala itu memang sebagian besar berprofesi sebagai pematung, turut menumbuhkan keinginannya untuk turut serta mengasah keterampilannya mendalami seni patung. Dari aktivitas membuat seni patung itulah ia kemudian dapat belajar banyak hal, yang dapat di implementasikan pada kehidupan bersosial, terlebih dalam hal kedisiplinan dan menghargai suatu proses.
Mungkin lembar kehidupan itulah yang kemudian membentuk I Wayan Sapta Edi hingga sekarang tak pernah mengeluh dengan lika – liku dan naik turun perjalanan hidup yang ia jalankan. Karena baginya bekerja keras adalah hal yang telah biasa dilaluinya sejak kecil, telah menjadi prinsip dasar hidupnya untuk tidak bergantung kepada orang lain dan percaya akan kemampuan diri sendiri untuk dapat mengubah garis takdir hidup dirinya dan keluarga tercinta.

Baca Juga : “Sebuah Dedikasi Untuk Desa Bongan” Maju Beriring Dengan Nilai-Nilai Luhur, Tradisi dan Budaya
Bagi I Wayan Sapta Edi kesuksesan bukan hanya perkara materi, namun juga bagaimana seorang insan dapat berkontribusi memberikan manfaat dengan pengalaman dan sumber daya yang dimiliki, sehingga dengan itu kebahagian lahir dan batin pun akan dirasakan.
Ia pun berharap, di era digital ini anak-anak muda milenial akan dapat turut bersama mengembangkan koperasi yang dibentuk sebagai soko guru nasional. Tentu dibutuhkan generasi penerus agar iklim dan laju koperasi dapat terus progresif dan berdaya saing.
Karena sejatinya lembaga koperasi memegang peran penting sebagai lembaga keuangan masyarakat yang memiliki tujuan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik untuk banyak orang ataupun lingkungan, lembaga seperti koperasi pun menjadi pondasi penting menggeliatnya perekonomian desa dan wilayah.
