Kepribadian yang bersahaja dan mempresentasikan yang terbaik untuk koperasi, diyakini pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini, yang mendominasi performanya dalam memimpin koperasi. Ilmu formalitas tak ia bekali dan matangnya pengalaman pun, bergantung dari mencerna seiring berjalannya waktu berkoordinasi dengan tim dan masyarakat. Selebihnya ia serahkan kepada Sang Pencipta dan Leluhur, atas kiprahnya di koperasi mampu berjalan sesuai dengan kaidah-kaidahnya dan selalu mementingkan kepentingan bersama, di atas kepentingan pribadi.
Bangkitnya pariwisata yang mulai dirasakan masyarakat Bali, pasca kasus pandemi COVID-19 yang kian menurun, siapapun mengharapkan korelasi dengan hal ekonomi juga terus memberikan pencerahan. Terutama keterkaitan terpuruknya pariwisata, yang berimbas ke sektor lainnya. Dalam hal ini, sebagai penggerak lembaga perekonomian, ia berharap kesejahteraan para anggota semakin meningkat, sesuai dengan semangat visi misi dari koperasi itu sendiri.

Baca Juga : “Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia” Belajar Dari Sebuah Seni Untuk Menjalani Hidup Multidisiplin
Tentunya keeksisan koperasi yang membawahi satu banjar ini, harus dipertahankan bahkan dikembangkan dengan sumber daya manusia yang terbarukan dalam menjunjung nilai-nilai transparansi dan kejujuran. Tanpa adanya regenerasi, tak hanya apa yang telah diwariskan Ketut Darma dan kawan-kawan menjadi terputus begitu saja, justru anak dan cucu di masa depan akan dikhawatirkan kurang membudayakan gotong royong tersebut, akan terkikis seiring berkembangnya teknologi digital. Jadi selain sebagai media eduksasi dalam manajemen keuangan, badan koperasi bisa menjadi wadah untuk kita tetap saling terkoneksi antara satu sama lain dan berinteraksi secara fisik, karena semaju-majunya zaman, tak semuanya bisa diselesaikan dengan digitalisasi, tetap butuh pertemuan nyata sesuai esensi manusia sebagai mahluk sosial.
