Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1962, untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMP, lagi-lagi I Wayan Suaba harus dibenturkan dengan masalah finansial yang membuat kedua orang tuanya menyikapi hal tersebut dengan sebuah keputusan agar ia tidak melanjutkan pendidikannya dan membantu bekerja di sawah, kendati sudah tidak lagi mempunyai uang untuk biaya sekolah.
Namun dengan skill menjahit yang diwariskan oleh sosok ayahanda, ditambah dengan kenekatannya untuk tetap bersekolah. I Wayan Suaba pun tak patah arang dan selalu cermat menangkap peluang untuk mendapatkan pundi – pundi rupiah agar dapat melanjutkan pendidikannya, dengan skill menjahit yang ia miliki, I Wayan Suaba pun membuka jasa upahan sebagai penjahit pakaian yang hasilnya ia tabung dan fokuskan untuk membiayai kebutuhan pendidikannya sendiri.

Profesi jasa upahan jahit pun ditekuninya, dan lambat laun keuletannya itu mendapat respon positif dari lingkungan sekitar, dengan bertumbuhnya para pelanggan dari hari ke hari secara organik, yang saat itu hasil karyanya di bidang jahit menjadi perbincangan dari mulut ke mulut. Sehingga profesi sebagai penjahit upahan ini pun dapat mencukupi hajat hidup dan pendidikannya hingga dapat menyelesaikan studi akademi maritim yang ditempuhnya dengan gemilang. Lembar kehidupan inilah yang telah menempanya menjadi seorang insan yang banyak belajar dari pengalaman sehari-hari dengan sadar ataupun tidak, membentuk karakter disiplin dan jiwa berdikarinya.
Dan yang tak kalah penting adalah fakor internal, sebuah kesenjangan ekonomi kemudian keadaan lingkungan lah yang nyatanya terus memotivasi I Wayan Suaba untuk terus bergerak dinamis menemukan peluang – peluang dari kemungkinan-kemungkinan baru meski berada di batas ketidakmungkinan. Hal inilah yang membentuknya selalu tajam dan lentur dalam melewati berbagai kesulitan.
Baca Juga : Udiyananda Medical Clinic Sebuah Dedikasi Layanan Kesehatan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Seutuhnya
Melalui bisnis jahit, pribadinya yang pandai bergaul membuatnya mendapatkan banyak kolega yang membuka kesempatan baginya untuk dapat bekerja di beberapa perusahaan. Semua itu berawal dari sikap luwes dan jiwa sosialnya yang tinggi, sehingga setelah menamatkan studi akademi maritimnya, jaringan pertemanan yang dimiliki I Wayan Suaba perlahan membuka satu demi satu pintu pekerjaan.
Karir pekerjaan I Wayan Suaba di mulai dengan bekerja di ‘PT. PELNI’ sebuah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pelayaran, angkutan penumpang dan barang. Di mana pada saat itu, ia lebih sering ditugaskan untuk menghitung jumlah barang – barang yang masuk dan tak jarang pula ia ditugaskan saat tengah malam yang menuntutnya untuk memiliki konsentrasi lebih karena harus melawan rasa kantuk.
Pekerjaan ini pun dilakoninya dengan sungguh – sungguh dan ia jadikan sumber pelajaran untuk meningkatkan kemampuan mengelola ritme pekerjaan yang membentuk sikap disiplin dan ketelitiannya.
Kesempatan lain pun berlanjut ketika ia dipertemukan dengan seorang kolega bernama Joko Adi Suprapto yang membukakan pintu kesempatan baginya untuk dapat bekerja di bandar udara. Namun untuk dapat bekerja di sana, I Wayan Suaba pun kemudian di arahkan oleh koleganya itu untuk menempuh beberapa program pendidikan untuk mendapatkan lisensi terlebih dahulu di Jakarta.
Keinginan besar untuk dapat terjun bekerja di bandar udara kembali dihadapkan dengan keadaan finansial yang mencekit. Lantaran I Wayan Suaba sendiri tidak cukup memiliki dana untuk dapat menempuh pendidikan lanjutan di Ibukota, namun bertemunya persiapan dan kesiapan membuahkan hasil yang kita sebut keberuntungan.
