Tetap Membumi Dengan Impian Besar Untuk Masa Depan Keluarga dan Anak Bangsa

Sosok koleganya Joko Adi Suprapto pun menjadi penyelamat hidupnya, dengan menjadi garda depan yang menyokong biaya pendidikan lanjutan di Jakarta dengan catatan I Wayan Suaba harus mengajak satu anak dari koleganya agar dapat menempuh pendidikan bersama dengannya.

Syarat itu kemudian diiyakan oleh I Wayan Suaba, ia pun kemudian dapat melanjutkan proses pendidikan lanjutan untuk dapat bekerja di bandar udara. Berbagai tes dan persyaratan pun diikutinya dan diselesaikannya dengan hasil yang baik, sehingga I Wayan Suaba kemudian diterima dan dapat berkarir di perusahaan bandar udara yang diinginkan.

Pengalaman bekerja menahun di bandara, membuat integritas dan kredibilitasnya dalam pekerjaan sudah tidak diragukan lagi. Dengan pengalamannya itu, I Wayan Suaba pun kemudian di angkat menjadi manajer di perusahaan tempatnya bekerja. Bisa dikatakan titik kehidupannya di masa ini telah berada di zona nyaman di mana sosok koleganya Joko Adi Suprapto menjadi sosok paling fundamental dan sangat berjasa di titik kehidupannya saat ini.

Namun rupanya, sebagai seorang insan yang memiliki cita – cita yang tinggi, lembar kehidupan ini tidak membuat sosok I Wayan Suaba menjadi pasif dan tidak terbuka akan kesempatan – kesempatan baru yang lebih baik.

Baca Juga : Berani Bertransformasi dan Beradaptasi BPR Sinar Kuta Terus Berorientasi Menggeliatkan UMKM

Karena nyatanya, I Wayan Suaba harus mengundurkan diri dari perusahaan bandar udara yang telah melambungkan karirnya, setelah ia mendapat kesempatan bekerja di kantor Konsulat Australia di mana pekerjaan sebagai clerical tersebut hanya dilakoninya dalam kurun waktu 2 tahun.

Setelahnya I Wayan Suaba kemudian rehat dari pekerjaan – pekerjaan yang ditekuninya dikarenakan ada urgensi lebih untuk dapat melaksanakan dharmanya kepada kampung halaman ketika di amanahkan untuk menjadi sosok Bendesa Adat Desa Pakraman Kelating, Tabanan.

Banyak dari teman dan rekannya yang menyayangkan langkah besar I Wayan Suaba meninggalkan pekerjaannya di kantor Konsulat Australia yang dinilai memiliki penghasilan tinggi dan diimpikan banyak orang. Namun bagi I Wayan Suaba menjalankan amanah untuk berdharma kepada desa dianggap sebuah hal sakral yang tidak dapat ditolak.

Maka, dengan kebulatan tekad I Wayan Suaba pun melepas pekerjaannya sebagai clerical di kantor Konsulat Australia dan mulai melaksanakan dharmanya untuk memimpin dan mengembangkan desa tercinta dengan pengalaman dan sumber daya yang ia miliki.

Dengan rutinitas padat sebagai Bendesa Adat, lagi – lagi tidak menyurutkan langkahnya untuk berdikari dan mempunyai basis ekonomi mandiri. Bersama istri tercinta Ni Nyoman Sukawartini, ia pun kemudian mulai mencoba mengembangkan sebuah apotek layanan kesehatan, yang pertama kali dibuka di Bangli pada tahun 1987 yang bernama Apotek Kurnia Farma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *